Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami.

Promo umroh plus turki di Banten

Banyak orang yang merasa lebih cocok memakai lensa kontak ketimbang kacamata untuk memperbaiki fokus penglihatan. Sayangnya, penggunaan lensa kontak yang semakin mudah tak dibarengi dengan perawatan kebersihan yang baik.

Sako-Indonesia.com - Banyak orang yang merasa lebih cocok memakai lensa kontak ketimbang kacamata untuk memperbaiki fokus penglihatan. Sayangnya, penggunaan lensa kontak yang semakin mudah tak dibarengi dengan perawatan kebersihan yang baik.

Jika kita kurang teliti dalam membersihkan, lensa kontak bisa menjadi sumber infeksi. Itu sebabnya para pengguna lensa kontak harus mewaspadai 8 kondisi berikut ini.

1. Saat menyentuh lensa kontak
Cuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh lensa kontak atau mata Anda. Sebaiknya kuku tidak terlalu panjang agar tidak menggores lensa. Jangan pernah menggunakan air keran atau air ludah untuk membersihkan lensa. Hanya gunakan cairan pembersih khusus lensa kontak.

2. Dipakai terlalu lama
Ada alasan penting mengapa para dokter tak menyarankan penggunaan lensa kontak terlalu lama. Lensa kontak menghambat oksigen ke mata. Jika Anda menggunakannya terlalu lama, misalnya malas membukanya saat tidur, bisa berpotensi menyebabkan luka pada kornea.

3. Menggunakan obat
Anda harus membuka dulu lensa kontak sebelum memakai berbagai jenis obat tetes mata. Namun, beberapa jenis obat, seperti pil kontrasepsi yang meningkatkan hormon estrogen bisa membuat mata lebih sensitif dan lebih kering. Demikian juga dengan obat jerawat yang bisa menyebabkan sensasi gatal pada mata.

4. Mata terlalu kering
Karena lensa kontak melapisi permukaan mata dan menahan oksigen, banyak pengguna lensa kontak yang mengalami mata kering. Kekeringan tersebut bisa bertambah parah dalam kondisi tertentu, seperti di pesawat, di cuaca kering, atau minum alkohol.

5. Cairan pembersih
Cairan pembersih (solution) lensa kontak memiliki banyak variasi, ada yang hanya membilas, membunuh kuman, atau membasahi mata untuk meningkatkan produksi air mata. Setiap produk tersebut mengandung pengawet yang bisa kadaluarsa atau mengiritasi mata. Karena itu hindari memakai produk yang sudah lewat masa pakainya. Selain itu, hindari kebiasaan memindahkan solution ke wadah kecil saat traveling karena bisa meningkatkan risiko kontaminasi.

6. Berdandan
Alat make-up bisa menjadi sarana infeksi. Untuk itu hindari meminjamkan maskara, eyeliner, atau eye shadow, dengan orang yang sedang sakit mata atau matanya iritasi. Selain itu, pakailah lensa kontak sebelum berdandan dan lepaslah lensa kontak sebelum membersihkan kosmetik.

7. Di luar ruangan
Partikel kecil di udara seperti debu, asap, atau bulu binatang, bisa masuk ke mata dan membuat iritasi. Lebih disarankan untuk tidak memakai kacamata saat naik motor.

8. Berenang
Tentu tak mungkin berenang dengan kacamata. Tetapi memakai softlens saat berenang di kolam yang mengandung klorin bisa membuat lensa kontak terkontaminasi. Sebaiknya lepaskan lensa kontak saat berenang dan tunggu satu jam sebelum memakai lensa kontak kembali.

 
Edditor: Maulana Lee

Kami telah menyediakan sewa mobil Bali murah, menawarkan penyewaan kendaraan dengan harga yang kompetitif dan selalu mengutamaka

Kami telah menyediakan sewa mobil Bali murah, menawarkan penyewaan kendaraan dengan harga yang kompetitif dan selalu mengutamakan kualitas pelayanan dan kondisi mobil yang disewakan. Kami telah menyediakan sewa Toyota Avanza, sewa Toyota Alphard, sewa Suzuki APV, sewa Daihatsu dan masih banyak yang lainnya. Untuk meliat jenis-jenis rent car yang kami sediakan, dapat di lihat di sini pilihan mobil rent car di Bali. sewa mobil bali

Jika anda berlibur ataupun melakukan bisnis, rental kendaraan atau rent car untuk transfortasi anda, adalah cara terbaik yang bisa anda pilih untuk mobilitas anda. Sekarang perusahaan penyewaan kendaraan, banyak terdapat di pulau ini. Menawarkan harga rental kendaraan murah dengan banyak tipe paket, hal ini juga akan memudahkan anda untuk dapat memilih dan mendapatkan harga murah untuk sewa mobil Bali dengan sopir atau sopir sendiri.

Wira car rental Bali, selalu mengutamakan kondisi kendaraan dan pelayanan dari supir, demi kenyamanan dan keamanan anda selama menyewa kendaraan kami. Semua kendaran rental kami, telah terlindungi oleh asuransi yang mengcover semua resiko. Untuk lebih jelas mengenai biaya klaim asuransi sewa kendaraan.

Begitu banyak jasa peyewaan kendaraan yang tersedia di internet, menawarkan harga murah untuk sewa mobil dengan sopir di Bali, mungkin anda tahu, harga tidak pernah bisa berbohong. Apakah anda akan percaya dengan kualitas yang mereka sediakan dan apakah semuanya tertanggung oleh asuransi kecelakaan? Maka perusahan rent car kami selalu menekankan terhadap kualitas pelayanan, karena kami tahu, kepuasan pelanggan adalah media promosi gratis yang paling terbaik.

Sewa mobil Bali, penyewaan mobil baru tahun pembuatan 2013. APV Luxury, Toyota Avanza, Alphard, Fortuner, Karimun, Estilo Rp.165.000 / 24 jam.

Kami juga telah menyediakan pelayanan sewa mobil Bali seperti:

Rental mobil harian, dengan supir atau tanpa supir. Penyewaan harian kendaraan tanpa supir, kami hitung selama 24 jam, sewa mobil dengan supir di Bali minimal 10 jam/hari.

Rental mobil mingguan dan bulanan, waktu minimal penyewaan yaitu 7 x 24 jam tanpa supir, maksimum peyewaan kendaraan selama satu bulan. Rental jenis ini telah memungkinkan dengan supir, jika pelanggan menginginkan.

Kami telah melayani antar jemput kendaraan rental di airport, hotel, villa dan rumah, tanpa biaya tambahan. Kami selalu siap melayani permintaan anda untuk sewa kendaraan murah dan rental kendaraan mewah.

Selain menyediakan jasa Bali sewa mobil, kami juga telah menyediakan Bali tour murah untuk setiap pelanggan kami yang menginginkan paket tour ke Bali dengan harga murah. Harga paket tour murah yang kami tawarkan tentunya tanpa mengabaikan kualitas layanan dan kenyamanan dari pelanggan kami. Banyak pilihan dari paket tour murah ke Bali yang kami sediakan untuk anda pilih. Semua paket wisata yang kami sediakan termasuk kendaraan, supir, tiket masuk ke objek wisata di Bali, biaya makan siang dan makan malam.

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

Joseph Lechleider

Mr. Lechleider helped invent DSL technology, which enabled phone companies to offer high-speed web access over their infrastructure of copper wires.

Artikel lainnya »