Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami.

Promo umroh plus turki di Bekasi Utara

saco-indonesia.com, Operational Manager PT Kernel Oil Pte Limited (KOPL) PT Kernel Oil, Simon Gunawan Tanjaya telah mengaku memb

saco-indonesia.com, Operational Manager PT Kernel Oil Pte Limited (KOPL) PT Kernel Oil, Simon Gunawan Tanjaya telah mengaku memberikan uang USD700 ribu kepada terdakwa mantan kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini melalui Deviardi.

Hal itu telah diungkapkan oleh Simon di depan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Jakarta saat menjadi saksi kasus suap mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini, Selasa (11/2/2014).

Simon juga mengatakan, ia telah mendapat perintah dari Komisaris PT Kernel Oil di Singapura, Widodo Ratanachaitong untuk dapat mengantarkan uang tersebut."Waktu itu saya ada penyerahan uang total USD700 ribu kepada Deviardi, itu telah terjadi sebelum dan setelah Lebaran," katanya.

Dikatakan Simon uang tersebut telah diberikan dalam dua tahap. Sebelum lebaran diberikan USD300 ribu dan sesudah lebaran USD400 ribu di Gedung Equity Tower.

Simon mengaku tidak tahu, kalau uang yang telah diberikan ke Deviardi akan dilanjutkan kembali ke Rudi. Bahkan, Ia baru mengetahui hal itu setelah Rudi ditangkap KPK bila uang itu memuluskan proyek tender di SKK Migas. "Waktu itu saya ditugaskan karena kan ada uang cash di Singapura. Lalu saya dititipkan uang USD 700 ribu (oleh Widodo). Jadi ada pembicaraan via skype (dengan Widodo), di tangan Widodo ada uang cash USD 700 ribu dan ingin dikembalikan ke Deviardi," terangnya.


Editor : Dian Sukmawati

Sangat kurang lengkap jika seseorang yang menjajakan barang dagangannya melalui internt tetapi tidak memahami tehnik Cara Mening

Sangat kurang lengkap jika seseorang yang menjajakan barang dagangannya melalui internt tetapi tidak memahami tehnik Cara Meningkatkan Penjualan Online yang jitu. Supaya hal ini jangan sampai terjadi pada anda, berikut kami akan membagikan sebuah trik bagaimana Cara Meningkatkan Penjualan Online yang paling jitu dan paling ampuh dan layak untuk dicoba. Bintaro Xchange Mall yang di bangun tepat disisi jalan tol Bintaro - Pondok Indah telah memberikan warna tersendiri bagi sang Ibu Kota khususnya Bintaro Jaya. Dibangun dengan konsep yang mengacu pada life style center dengan interactive green area telah menjadikan Bintaro Xchange Mall sebagai Mall di Jakarta yang bersahabat dengan lingkungan.

Bintaro Xchange Mall merupakan sebuah ikon gaya hidup dan belanja di kawasan Bintaro Jaya. Walaupun salah satu Mall di Jakarta ini belum lama di launching, namun berkat managemen yang solid dengan menyajikan apapun kebutuhan para pengunjungnya untuk membuat mereka senyaman mungkin, telah menjadikan salah satu Mall di Jakarta ini menjadi tempat berkunjung paling pavorit di kawasan selatan Jakarta.

Bintaro Xchange Mall ini merupakan Mall di Jakarta yang ramah terhadap lingkungan. Sehingga tentu saja memberikan efek nyaman bagi para pengunjung dan para penghuni kawasan Bintaro Jaya. Area taman yang hijau dan arena ice skating untuk anda yang ingin mencoba permainan di atas salju yang terhampar luas.

Ada cukup banyak Mall di Jakarta, dan baru-baru ini di kawasan Bintaro Jaya yakni sebelah selatan Jakarta telah di luncurkan sebuah Mall yang bakal menjadi pavorit untuk di kunjungi setiap akhir pekan bahkan setiap hari sekalipun, karena anda tidak akan pernah merasa bosan untuk selalu berkunjung ke Bintaro Xchange Mall ini.

Bintaro Xchange Mall ini merupakan sebuah Mall yang di bangun dengan konsep moderen namun etap mengedepankan Green Area, yang itu artinya akan sangat berpengaruh untuk kesehatan para pengunjungnya juga untuk kawasan di sekitar Mall di Jakarta yang satu ini.

Mungkin anda pernah berjalan-jalan di salah atu Mall di Jakarta? Tentu saja bukan? Dan apa yang anda rasakan? Relatif, masing-masing mempunyai kesan yang berbeda ketika mengunjungi suatu temtap. Bukankah demikian? Namun demikian apakah anda sudah pernah mengunjungi Mall di Jakarta yang satu ini? Dimana? Itu loh salah satu mall di Bintaro Jaya yang baru saja diluncurkan beberapa waktu yang lau, oh Bintaro Xchange Mall maksudnya? Betul sekali kawan, cobalah di suatu waktu mengunjunginya dan anda akan mendapatkan layanan yang memanjakan di Mall di Jakarta yang atu ini.

Demikian sedikit informasi dari kami seputar Bintaro Jaya Xchange Mall pusat lifestyle dan belanja terbaru di selatan Jakarta, semoga berguna dan sampai jumpa kembali di berbagai info lainnya. Jangan lupa untuk singgah di pusat bisnis pulsa di Indonesia. Terimakasih.

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

As governor, Mr. Walker alienated Republicans and his fellow Democrats, particularly the Democratic powerhouse Richard J. Daley, the mayor of Chicago.

Artikel lainnya »