Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami.

travel haji umroh Pancoran Mas

saco-indonesia.com, Eks pelatih Barcelona yang kini telah menangani Bayern Munich, Josep Guardiola, sepenuhnya telah mendukung k

saco-indonesia.com, Eks pelatih Barcelona yang kini telah menangani Bayern Munich, Josep Guardiola, sepenuhnya telah mendukung keputusan klubnya yang tengah mengincar kiper milik Borussia Monchengladbach, Marc-Andre Ter Stegen.

Namun demikian, Pep telah menyebut andai Ter Stegen memang jadi datang ke Camp Nou nanti, maka itu berarti Barca tidak mendapatkan kiper terbaik. Mengapa demikian?

"Ter-Stegen adalah kiper yang amat bagus, ia adalah salah satu yang sangat terbaik di dunia," tutur Guardiola menurut laporan yang dilansir oleh AS.

"Namun penjaga gawang terbaik dunia ada di sini, di Bayern. Dia adalah Manuel Neuer," pungkasnya.

Ter Stegen sendiri telah direncanakan akan menjadi pengganti Victor Valdes, yang juga sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan Barcelona. Meski transfer ini belum dapat diresmikan oleh kedua klub, namun tanda-tanda menuju ke sana sudah terlihat. Sang pemain disebut enggan menerima tawaran kontrak anyar dari klubnya dan persiden Borussia juga sudah sempat mendoakan kipernya untuk agar sukses di luar negeri.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Cara Terbaik Dan Awet Untuk Renovasi Atap Rumah mungkin benar jika rangka baja ringan itu 100% ideal. Tapi,

saco-indonesia.com, Cara Terbaik Dan Awet Untuk Renovasi Atap Rumah mungkin benar jika rangka baja ringan itu 100% ideal. Tapi, asal semuanya syaratnya dapat terpenuhi.

Penggunaan baja ringan sebagai struktur rangka atap rumah saat ini memang sudah mulai banyak digunakan banyak orang dan pengembang perumahan. Tak hanya pengembang kelas menengah ke atas saja , pengembang kelas menengah ke bawah pun juga mulai menggunakan material yang satu ini. Alasan yang paling utama adalah harga kayu yang sudah semakin melambung sementara kualitasnya telah semakin menurun.

Ada faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi hasil akhir nilainya tidak dapat mencapai 100% sempurna. Bahkan dalam kondisi terburuk, rangka baja ringan ini juga gagal berfungsi dan sangat membahayakan penghuni rumah. Lantas hal apa yang dapat menurunkan kualitas pemasangan atap baja ringan.

DUDUKAN RANGKA BERMASALAH

Sedikit banyak dudukan rangka dapat mempengaruhi kinerja atap baja ringan. Jika dudukan miring atau tidak sesuai, kuat tekan baja ringan tidak akan dapat tersalur sempurna dan seimbang. Lambat laun, ini juga akan dapat mempengaruhi kekuatan konstruksi. Jika telah terjadi ketidakseimbangan, kemungkinan ambruk sangat besar.

CARA PEMASANGAN YANG TIDAK BENAR

Karena ini adalah sebuah system rangka, jadi pemasangan juga wajib tepat. Sedikit kesalahan akan dapat membuat system rangka tidak dapat berfungsi. Jika diibaratkan rangka baja ringan ini seperti sapu lidi. Benda juga tak bisa berdiri sendiri. Pemasangan juga harus didukung oleh perkiraan beban dan kualitas bahan yang baik. Pemasangan rangka juga telah memiliki prosentase keberhasilan dan kegagalan yang sangat vital. Jika salah, siap-siap rangka akan ambruk. Tak perduli itu sudah di desain dengan rangka yang benar, dihitung dengan cermat dan dengan menggunakan kualitas bahan yang baik. Tidak akan berguna dengan cara pemasangan yang tidak benar.

YANG MEMASANG BUKAN AHLINYA

Rangka atap baja ringan tidak akan bisa dipasang oleh sembarang orang. Hanya orang yang berpengalaman dan sudah terlatih yang bias melakukannya. Hal ini karena struktur rangka baja ringan telah di asumsikan dan telah dihitung secara 3 dimensi yang menjadi satu kesatuan. Andaikata ada satu saja pemasangan yang tidak tepat akan dapat melemahkan struktur lainnya. Pemasangan juga harus dilakukan oleh orang yang ahli dan telah memiliki sertifikat. Kalau pemasangannya sudah tepat, tidak perlu ada yang di khawatirkan. Rangka akan kuat dalam menopang atap hingga berfungsi maksimal.

KUALITAS MATERIAL RENDAH

Jangan asal cari murah, tapi pakailah rangka baja ringan yang telah berkualitas. Ingat, rangka baja ringan posisinya diatas kepala kita. jadi, jika anda membeli rangka kualitas rendah sama saja anda menantang bahaya. Sangat mudah dalam menentukan baja ringan berkualitas atau tidak.jika anda tak ingin pusing lihat saja merk nya dan konsultasikan dengan desainer rumah anda. Merek-merk dari produsen besar yang telah memiliki nama, tentunya akan lebih dapat diandalkan. Anda juga sebaiknya tidak mencampur beberapa merk, termasuk sampai baut-bautnya.

BEBAN BERLEBIH TANPA RENCANA

Jika anda ingin menaruh beban berat seperti lampu gantung, pemanas air, tendon air, atau apapun yang akan ditaruh dan berhubungan dengan rangka atap, sebaiknya terlebih dahulu direncanakan dari awal. jika tidak, dikhawatirkan tidak dapat menahan beban berat dan dapat mengakibatkan atap ambruk.

KASAR SAAT PEMASANGAN GENTING

Benar jika baja ringan bersifat anti karat. Dengan syarat lapisan anti karatnya tidak hilang. Salah satu yang telah membuat anti karat mengelupas adalah pada saat pemasangan genting, jangan sampai terjadi banyak benturan dan goresan antara genting dengan baja ringan. Karena sedikit banyak akan menghilangkan lapisan anti karatnya hilang. Lambat laun, karat ini juga akan dapat menurunkan kualitas baja ringan.

LOKASI MEMPENGARUHI KUALITAS

Lokasi juga sangat mempengaruhi kualitas baja ringan.orang berada di daerah pegunungan cenderung sedikit masalah jika dibandingkan dengan orang yang memakai baja ringan di daerah pantai. Ini terkait dengan korosi yang disebabkan hawa air laut, jika di asumsikan, baja ringan didaerah pegunungan dapat berumur 20 tahun sedang di daerah pantai hanya bertahan 10 tahun.


Editor : Dian Sukmawati

With 12 tournament victories in his career, Mr. Peete was the most successful black professional golfer before Tiger Woods.

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

Artikel lainnya »