Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami.

travel umroh Sukabumi

Selama ini Anda telah mengenal kafein identik dengan kopi. Padahal kafein sendiri adalah senyawa kimia yang telah ditemukan di dalam suatu jenis makanan atau minuman tertentu, termasuk terdapat di dalam kopi.

Selama ini Anda telah mengenal kafein identik dengan kopi. Padahal kafein sendiri adalah senyawa kimia yang telah ditemukan di dalam suatu jenis makanan atau minuman tertentu, termasuk terdapat di dalam kopi.

Banyak kontroversi yang berkembang tentang baik dan buruknya kafein untuk kesehatan. Oleh karena itu sebelum mengonsumsinya, inilah hal yang harus Anda ketahui tentang kafein :

Kebutuhan kafein bervariasi
Setiap orang telah memiliki kondisi kesehatan dan kebutuhan nutrisi yang berbeda. Begitu pula dengan kebutuhan akan kafein. Terutama kebutuhan akan kafein didasarkan pada keadaan metabolisme tubuh, apakah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan atau tidak, tingkat insomnia, dan apakah Anda sedang mengandung atau tidak.

Kopi berkafein dan non kafein
Setiap kopi telah mengandung kafein. Namun ada jenis kopi decaf, yaitu kopi yang sudah dihilangkan sebagian besar kafeinnya.

Kafein di dalam kopi
Setiap jenis dan olahan kopi juga mengandung kafein yang sangat berbeda-beda di dalamnya. Secangkir kopi hitam telah memiliki kandungan kafein yang lebih banyak jika dibandingkan dengan kopi susu atau kopi instan lainnya.

Kafein di dalam minuman berenergi
kafein yang ada di dalam kopi bermanfaat untuk dapat membuat tubuh Anda lebih awas. Namun sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa kafein yang ada di dalam minuman berenergi justru dapat meningkatkan berat badan sebanyak 29%.

Kafein mengurangi risiko alzheimer
Dalam sebuah penelitian yang berbasis di Florida, peneliti menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi kopi sebanyak 3 cangkir sehari mampu terhindar dari risiko penyakit alzheimer.

Kafein menyembuhkan peradangan
Penelitian lain yang dilakukan di University of Illinois menunjukkan bahwa kafein mampu menghalangi peradangan otak yang dapat menyebabkan penyakit otak.

Efek kafein pada kehamilan
Ibu hamil sebaiknya mengurangi konsumsi kafein. Sebab beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi kafein secara berlebihan akan berisiko melahirkan bayi prematur, termasuk gangguan pertumbuhan buah hati di masa mendatang.

Pengaruh kafein pada pria dan wanita
Kafein mempunyai pengaruh yang berbeda-beda pada pria dan wanita. Konsumsi kafein akan menurunkan risiko diabetes pada pria, sementara pada wanita justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Menghindarkan kanker
Kafein juga mampu memerangi kanker. Wanita yang minum 4 cangkir kopi sehari akan mengalami penurunan risiko kanker endometrium sebanyak 25%.

Itulah beberapa hal tentang kafein yang selama ini jarang terungkap. Kafein dapat bermanfaat positif dan negatif pada tubuh Anda tergantung bagaimana Anda mengonsumsinya.

Rumah mantan pejabat PT Telkom di Jalan Menteng Kecil No.9 RT 11/9 Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, telah dibobol pembantu. Perhisan emas dan mata uang asing total Rp 100 juta raib dari brankas. Hal itu telah dibenarkan oleh Kapolsek Menteng AKBP Gunawan,SH,MH.

Rumah mantan pejabat PT Telkom di Jalan Menteng Kecil No.9 RT 11/9 Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, telah dibobol pembantu. Perhisan emas dan mata uang asing total Rp 100 juta raib dari brankas. Hal itu telah dibenarkan oleh Kapolsek Menteng AKBP Gunawan,SH,MH.

Menurut Syafaruddin yang berusia 54 tahun , Ketua RT setempat, oleh Samilah Bin Atmorejo,63, dan istrinya Ny HJ Maya,56, rumah berlantai dua itu telah dijadikan tempat kos. Rumah seluas 400 meter dengan tiga pembantu dua wanita sedang satu lagi waria.Kamarnya ada 17.

“Setelah pensiun sejak tahun 2008, rumah tersebut dijadikan kos-kosan di lantai dua sedang di lantai bawah dihuni pemilik, namun pemilik tidak melapor ada anak kos,”ujar ketua RT .

Brankas telah diketahui bobol Senin (10/3) lalu, korban telah mengambil uang buat bayar umroh yang di laksanakan bulan ini. Anehnya tak ada bekas congkelan di brankas, telah membuat korban mencurigai tiga pembantunya. Pemilik lalu melapor ke polisi.

Petugas segera melakukan olah TKP dan dari hasil pemeriksaan ternyata salah satu pembantunya bernama Oyok alias Dodoy,22, yang dicuriagi sebagai pelaku.Pasalnya yang bersangkutan menghilang.

Oyok alias Dodoy, telah diburu ke kampung halaman di Cianjur. Tak pelak lagi pembantu yang sudah 7 tahun bekerja diseret polisi ke Jakarta.

Kepada polisi,tersangka juga mengaku perhiasan emas dan mata uang asing total Rp 100 juta diambil, semuanya dipakai untuk beli rumah di kampung sedang sisanya Rp 45 juta masih ada disimpan dalam buku tabungan bank.

“Dan dari tangan pelaku itu selain buku tabanas juga disita 2 HP dan TV serta sepatu yang dibeli dari hasil kejahatan. Brankas telah dibuka pakai kunci duplikat yang dibuat di Senen. Uang tidak diambil sekaligus hanya kalau majikan pergi ke daerah

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »