Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami.

travel umroh di Jakarta Pusat

saco-indonesia.com, Naiknya harga jengkol di sejumlah daerah hingga menyentuh angka Rp 50.000 per kilogram memicu spekulasi soal pemicunya.

LEBAK, Saco-Indonesia.com — Naiknya harga jengkol di sejumlah daerah hingga menyentuh angka Rp 50.000 per kilogram memicu spekulasi soal pemicunya. Apa kira-kira penyebabnya?

Para pedagang di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, misalnya, menduga kenaikan tersebut akibat terjadi kelangkaan di pasaran. Suryani, seorang pedagang sayur-sayuran di Pasar Rangkasbitung mengatakan, sejak tiga pekan terakhir, pasokan jengkol dari petani menghilang.

Menghilangnya pasokan jengkol kemungkinan karena belum memasuki musim panen.

"Karena itu, jika ada jengkol dipastikan harganya melambung hingga mencapai Rp 50.000/kg atau melebihi harga daging ayam sebesar Rp 25.000. Harga normal jengkol bisanya sekitar Rp20 ribu/kg," katanya.

Sementara itu, Soleh, seorang pedagang di Pasar Rangkasbitung, menduga pasokan jengkol dari sejumlah petani di Kabupaten Lebak berkurang karena banyak pohon jengkol ditebang untuk keperluan bangunan perumahan maupun kerajinan rumah tangga.

"Berkurangnya pasokan jengkol itu karena banyak pohon jengkol beralih fungsi menjadi perumahan maupun perkebunan. Sebelumnya, sentra jengkol di Kabupaten Lebak hampir merata di setiap kecamatan," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini, jengkol di Rangkasbitung dipasok dari Provinsi Lampung dan Palembang.

"Kami berharap petani bisa mengembangkan kembali tanaman jengkol karena permintaan pasar cukup tinggi," katanya.

Kepala Pasar Rangkasbitung Dedi Rahmat mengakui selama ini pasokan jengkol di pasaran menghilang sehingga pedagang terpaksa berjualan komoditas lain. Mereka para pedagang jengkol saat ini beralih menjadi pedagang buah-buahan maupun umbi- umbian akibat kelangkaan tersebut.

"Saya kira kelangkaan jengkol ini kali pertama akibat belum tibanya musim panen juga banyak pohon jengkol digunakan untuk pembangunan rumah," katanya.

Sumber : ANT/Kompas.com
Editor :Liwon Maulana(galipat)

 Artikel ini buat karena saya prihatin pada para pembeli yang pernah tertipu oleh para penjual jaket kulit palsu, karena ak

 Artikel ini buat karena saya prihatin pada para pembeli yang pernah tertipu oleh para penjual jaket kulit palsu, karena akhir-akhir ini banyak sekali penjual yang menyebut jaket kulit padahal semua itu palsu karena yang dijual tersebut adalah jaket sintetis atau bukan jaket yang berbahan kulit. kebanyakan para penipu tersebut datang ketempat atau daerah daerah yang jauh dari kota Garut dengan menggunakan mobil mini atau menggunakan mobil Box barang, jaket kulit palsu yang dibawanya banyak bisa nyampai 200 pcs bahkan lebih dengan modal korek api gas atau korek api bensin serta mengatas namakan jaket kulit domba asli dari Garut mereka merayu para pembeli bahwa jaketnya benar benar kulit sambil menyalakan korek api sepintas sepintas dia menyalakan koreknya dan di dekatkan pada jaketnya seolah olah jaketnya benar benar asli kulit dan tahan api padahal mereka melakukan itu hanya sepintas agar pembeli tertarik dan dapat dibohongi.

Tips sederhana agar tidak tertipu

    Waspadalah dan berhati-hatilah dengan para penjual jaket keliling yang menggunakan mobil/atau para penjual yang langsung datang kedaerah anda umumya para penipu tersebut menggunakan mobil dan lebih dari 2 orang tujuannya adalah tempat /daerah yang jauh dari kota Garut .
    Kebanyakan para penjual jaket kulit palsu itu menawarkan jaket dengan harga yang sangat murah di bawah harga modal jaket kulit, serta membawa korek api gas atau bensin dan sedikit berdemo dan memperlihatkan para penipu tersebut menyalakan korek api yang dinyalakan dan didekatkan pada jaket palsunya seolah olah jaketnya tahan oleh api sehingga para pembeli percaya bahwa jaket yang dijualnya benar-benar asli kulit.
    Supaya tidak tertipu mintalah potongan atau limbah jaket yang dijualnya karena kulit asli kalau dibalikin memiliki tektur khas kulit beda dengan sintetis yang kalau dibalikin terlihat ada serat kain.
    Catat nomor mobil/motornya atau kalau perlu KTP agar apabila anda masih tertipu anda mudah melaporkan pada pihak kepolisian atau pihak berwajib
    Jaket kulit domba asli mempunyai tektur lembut beda dengan jaket sintetis atau oskar atau imitasi
    Kulit asli kalau dibakar selama 1 sampai 2 menit kulit akan mengkerut dan tercium aroma kulitnya beda dengan sintetis/oskar atau imitasi kalau dibakar dalam waktu 1 sampai 2 menit akan meleleh atau tercium aroma plastik terbakar.
    Banyak bertanya pada para pembuat jaket kulit asli bisa pada kami atau pada orang yang mengetahui tentang kulit


Demikian sedikit tips agar anda tidak tertipu dan kedepan akan kami bahas lebih dalam dan anda bisa bekonsultasi menanyakan tentang jaket kulit atau barang barang kulit pada kami. dengan cara menghubungi kami

Joseph Lechleider

Mr. Lechleider helped invent DSL technology, which enabled phone companies to offer high-speed web access over their infrastructure of copper wires.

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.

Artikel lainnya »