Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami.

travel umroh di Kuningan

saco-indonesia.com, Jenis-jenis Valve dan Fungsinya Jenis-jenis valve dan fungsinya :   1. Gate Valve Gate Valve a

saco-indonesia.com,

Jenis-jenis Valve dan Fungsinya

Jenis-jenis valve dan fungsinya :
 
1. Gate Valve
Gate Valve adalah valve yang paling sering dipakai pada sistem perpipaan. Fungsinya untuk dapat membuka dan menutup aliran (on-off), tetapi tidak bisa untuk mengatur besar kecil aliran (throttling). Kelebihan Gate Valve, minimnya halangan/ resistan saat valve ini telah dibuka penuh, sehingga aliran bisa
maksimal. Gate Valve telah mengontrol aliran melalui badan valve yang berbentuk pipa, dengan sebuah lempengan atau baji vertikal  yang bisa bergeser naik turun saat handel valve diputar. Valve ini telah didesain untuk dapat mengatur posisi terbuka penuh, atau tertutup penuh. Jika valve ini dalam keadaan setengah terbuka, maka akan dapat menyebabkan pengikisan pada badan valve, dan turbulensi aliran zat bisa dapat menyebabkan getaran pada baji valve sehingga dapat menghasilkan suara gemeretak.

2. Globe Valve
Globe Valve biasanya akan digunakan pada situasi dimana pengaturan besar kecil aliran (throttling) sangat diperlukan. Dengan mudah memutar handel valve, besarnya aliran zat yang telah melewati valve bisa diatur. Dudukan valve yang sejajar dengan aliran, telah membuat globe valve efisien ketika dapat mengatur besar kecilnya aliran dengan minimum erosi piringan dan dudukan. Namun demikian tahanan didalam valve cukup besar. Desain globe valve yang sedemikian rupa, telah memaksa adanya perubahan arah aliran zat didalam valve, sehingga tekanan menurun drastis dan dapat menyebabkan turbulensi di dalam valve itu sendiri. Dengan demikian, Globe Valve tidak disarankan diinstal pada sistem yang menghindari penurunan tekanan, dan sistem yang menghindari tahanan pada aliran.

3. Angle Valve  
Sama seperti globe valve, angle valve juga akan digunakan pada situasi dimana pengaturan besar kecil aliran telah diperlukan (throttling). Namun angle valve telah di buat dengan sudut 90°, hal ini untuk dapat mengurangi pemakaian elbow 90° dan fitting tambahan.
 
4. Check Valve
Check Valve telah memiliki perbedaan yang sangat signifikan dari Gate Valve dan Globe Valve. Valve ini telah di disain untuk dapat mencegah aliran balik. Ada beberapa jenis check valve, tapi ada 2 jenis yang paling umum yaitu Swing Check dan Lift Check. Swing Check Valve biasanya telah dipasangkan dengan Gate Valve, sedangkan Lift Check Valve oleh beberapa pabrikan digunakan untuk dapat menggantikan fungsi Ball Valve sebagai Ball Check Valve. Check Valve tidak menggunakan handel untuk dapat mengatur aliran, tapi dengan menggunakan gravitasi dan tekanan dari aliran fluida itu sendiri. Karena fungsinya yang juga dapat mencegah aliran balik (backflow). Check Valve juga sering digunakan sebagai pengaman dari sebuah equipment dalam sistem perpipaan.
 
5. Ball Valve
Ball Valve adalah alternatif murah dari jenis valve-valve yang lain. Ball valve dengan menggunakan bola logam yang tengahnya ada lubang tembus, diapit oleh dudukan valve untuk dapat mengontrol aliran. Sering dipakai pada proses hydrocarbon, ball valve mampu untuk dapat mengatur besar kecil aliran gas dan uap terutama untuk tekanan rendah. Valve ini juga dapat dengan cepat ditutup dan cukup kedap untuk menahan fluida/ zat cair. Ball valve tidak menggunakan handwheel, tetapi dengan menggunakan ankle untuk dapat membuka atau menutup valve dengan sudut 90°.
 
6. Butterfly Valve
Butterfly Valve telah memiliki bentuk yang sangat unik jika dibandingkan dengan valve-valve yang lain. Butterfly dengan menggunakan plat bundar atau wafer yang dioperasikan dengan ankel untuk posisi membuka penuh atau menutup penuh dengan sudut 90°. Wafer ini tetap berada ditengah aliran, dan dihubungkan ke ankel melalui shaft. Saat valve dalam keadaan tertutup, wafer tersebut tegak lurus dengan arah aliran, sehingga aliran terbendung, dan saat valve terbuka wafer sejajar/ segaris dengan aliran, sehingga zat dapat mengalir melalui valve. Butterfly valve telah memiliki turbulensi dan penurunan tekanan (pressure drop) yang minimal. Valve ini sangat bagus untuk pengoperasian on-off ataupun throttling, dan bagus untuk dapat mengontrol aliran zat cair atau gas dalam jumlah yang besar. Namun demikian valve ini biasanya tidak memiliki kekedapan yang bagus, dan harus digunakan pada situasi/ sistem yang memiliki tekanan rendah (low-pressure).

7. Relief Valve
Relief valve telah memiliki fungsi yang sangat berbeda dari valve-valve yang lain. Valve ini telah didisain khusus untuk dapat melepas tekanan berlebih yang ada di equipment dan sistem perpipaan. Untuk dapat mencegah kerusakan pada equipment, dan lebih penting lagi cedera pada pekerja, relief valve dapat melepas kenaikan tekanan sebelum menjadi lebih ekstrim. Relief valve menggunakan pegas baja, yang secara otomatis akan terbuka jika tekanan mencapai level yang tidak aman. Level tekanan pada valve ini bisa diatur, sehingga bisa ditentukan pada level tekanan berapa valve ini akan terbuka. Ketika tekanan kembali normal, relief valve secara otomatis akan tertutup kembali.


Editor : Dian Sukmawati

BEBAS DARI PENYAKIT- PENYAKIT DEGENERATIF. 0818.784.144 DAN 0813.1909.7576 Posted on 26 Juli 2011by gbinilang

BEBAS DARI PENYAKIT- PENYAKIT DEGENERATIF. 0818.784.144 DAN 0813.1909.7576

Fakta Tentang Sarang Semut : Bebas Dari Kanker Tanpa Perlu Operasi, Kometerapi, dan Biopsi Hanya dalam Waktu Hitungan Bulan Saja! — Juga Terbukti Ampuh Mengatasi Tumor, TBC, Diabetes, Hipertensi, Lever, Asam Urat, Jantung Koroner, dan Berbagai Penyakit Berat Lainnya— Dikonsumsi Oleh Ribuan Orang Dan Terus Bertambah, Sejak dipekenalkan terapi sarang semut 6 Tahun Yang Lalu.

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

Hired in 1968, a year before their first season, Mr. Fanning spent 25 years with the team, managing them to their only playoff appearance in Canada.

Artikel lainnya »