Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami.

travel umroh di Parung

saco-indonesia.com, Badan Nasional Penanggulangan Teroris atau BNPT menduga Pelaku bom bunuh diri di Mapolres Poso merupakan satu jaringan dengan teroris di Jakarta, Bandung, Solo, NTT, Aceh, yang merupakan anak buah dari Abu Umar, Abu Roban, Kodrat, Sofyan dan Jamil.

Bandung, Saco- Indonesia.com, Badan Nasional Penanggulangan Teroris atau BNPT menduga Pelaku bom bunuh diri di Mapolres Poso merupakan satu jaringan dengan teroris di Jakarta, Bandung, Solo, NTT, Aceh, yang merupakan anak buah dari Abu Umar, Abu Roban, Kodrat, Sofyan dan Jamil.

Demikian hal itu dikatakan Kepala BNPT, Ansyad Mbai, Selasa (4/6) hari ini.

Ansyad mengatakan, aparat kepolisian dari mabes polri terus melakukan identifikasi terkait pelaku bom bunuh diri yang terjadi di Poso, dan hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui jaringan-jaringan mana. Karena saat ini jaringan teroris tersebut mencari bibit-bibit baru untuk dijadikan sel-sel teroris.

Editor:Liwon Maulana

Sumber:Elshinta

Objek wisata Gunung Bromo tentu juga sudah sering terdengar bukan ditelinga Anda, terutama Masyarakat Jawa Timur sendiri. Siapa

Objek wisata Gunung Bromo tentu juga sudah sering terdengar bukan ditelinga Anda, terutama Masyarakat Jawa Timur sendiri. Siapa yang tak sangka Gunung berapi yang masih dalam status aktif ini juga merupakan salah satu objek wisata yang sangat populer di kawasan Jawa Timur, Indonesia. Gunung dengan ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut ini telah terletak di dalam 4 kawasan yakni Pasuruan, Kab. Probolinggo, Lumajang dan Kab. Malang.

Bagi Anda yang baru pertama kali berwisata ke Gunung Bromo ini jangan heran jika Anda dibuat terkesan akan keindahan panorama alam Bromo yang begitu sangat menakjubkan. Hamparan savana hijau bersamaan dengan lautan pasir yang telah memiliki luas sekitar 10 kilometer persegi benar benar siap memukau siapa saja yang melihatnya. Gunung Bromo juga terkenal akan kawahnya yang begitu indah ketika mengeluarkan asap belerang yang relatif cukup tipis. Disekitar Gunung Bromo juga terdapat Gunung Batok, Gunung Semeru dan Gunung Penanjakan yang telah menjadi lokasi paling strategis untuk dapat melihat sunrise dari puncak Gunung Bromo.

Salah satu peristiwa yang unik di kawasan Gunung Bromo adalah tradisi adat yang bernama “Yadnya Kasada atau Kasodo” yang selalu diselenggarakan penduduk Tengger di sebuah pura yang terletak di bawah kaki Gunung Bromo Utara setiap bulan purnama. Pada saat upacara adat ini berlangsung, jumlah pengunjung yang datang bisa melonjak berlipat lipat termasuk berbagai media Nasional dan Internasional yang datang untuk meliput tradisi yang unik ini. Untuk masalah tempat penginapan Anda tidak perlu khawatir karena di kawasan Bromo sudah banyak berdiri hotel, villa dan tempat penginapan lainnya yang dapat Anda sewa.

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

The career criminals in genre novels don’t have money problems. If they need some, they just go out and steal it. But such financial transactions can backfire, which is what happened back in 2004 when the Texas gang in Michael

Artikel lainnya »