Setiap tahunnya biaya naik haji baik haji reguler maupun haji khusus / plus pasti berbeda-beda, Call/Wa. 0851-00-444-682 hal ini dikarenakan adanya perubahan komponen harga untuk kebutuhan pokok naik haji seperti biaya transportasi dan akomodasi termasuk living cost yang dibutuhkan jamaah selama berada di tanah suci sangat fluktuatif. Selain menyediakan paket-paket haji onh plus, umrah dan tour muslim sebagai bentuk layanan yang tersedia, Travel Aida Tourindo Wisata juga berusaha menghadirkan mutowif (pembimbing) ibadah umroh haji yang ahli dan mendalami bidang Fiqih Islam, terutama untuk masalah ibadah umrah dan haji.

Kami berusaha memberikan bimbingan mulai sebelum berangkat, saat pelaksanaan dan setelah ibadah haji dan umroh, ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kami kepada jamaah, bahwa ibadah yang dijalani telah sah sesuai petunjuk Allah dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Travel kami juga menggunakan penerbangan yang langsung landing Madinah sehingga jamaah bisa nyaman selama perjalanan umroh bersama kami.

travel umroh haji Bekasi barat

Pada awal kehidaupan manusia, sampah belum menjadi masalah, tetapi dangan bertambahnya penduduk di mana ruang tetap, semakin hari maslahnya semakin besar. Hal ini jelas bila kita melihat moderenissasi kehidupan, perkembangan teknologi, sehingga meningkatkan aktivitas manusia. Sehubungan dengaan kegiatan manusia, maka permasalahan sampah akan berkaitan baik dari segi social ekonomi maup...

 

            Pada awal kehidaupan manusia, sampah belum menjadi masalah, tetapi dangan bertambahnya penduduk di mana ruang tetap, semakin hari maslahnya semakin besar. Hal ini jelas bila kita melihat moderenissasi kehidupan, perkembangan teknologi, sehingga meningkatkan aktivitas manusia. Sehubungan dengaan kegiatan manusia, maka permasalahan sampah akan berkaitan baik dari segi social ekonomi maupun budaya.
            Kesehatan seorang maupun masyarakat merupakan masalah social yang selalu berkaitan antara komponen-komponen yang ada dalam masyarakat. Sampah bila dapat diamankan tidak menjadi potensi yang berpengaruh terhadap lingkungan. Namun demikian sebagaimana telah diutarakan di atas, bahwa sampah yang dikelola tidak berada pada tempat yang menjamin keamanan lingkungan, sehingga mempunyai dampak terhadap kesehatan lingkungan. Sampah yang tidak dikelola dengan baik ini akan menjadi bermacam-macam fungsinya, Antara lain :
1.      Sebagai sarana penularana penyakit. Hal ini timbbul karena sampah basah (garbage) dapat menjadi tempat bersarangnya  dan berkembangbiaknya dari bermacam-macam Vektor penularan penyakit. Vektor yang dimaksud adalah: lalat, Kecoak, nyamuk, dan tikus.
·         Kebiasaan lalat: Lalat biasa hidup di tempat-tempat yang kotor dan tertarik akan bau yang busuk. Benda-benda yang ber bau busuk juga merupakan makanan lalat. Sampah, terutama sampah basah, cepat berbau busuk, sehingga merupakan tempat berkembangbiak dan tempat makanan lalat.
·         Kebiasaan kecoak: Kecoak senang tinggal di tempat-tempat yang lembab, berbau, dan keadaan gelap. Tumpukan sampah yang lembab, berbau, dan terdapat banyak celah-celah yang gelap merupakan tempat berkembang biaknya kecoak. Lalat  dan kecoak merupakan vector penularan penyakit saluran pencernaan (perut) seperti: diseentri, basiller, disentri amoeba, cholera, typhus abdominalis, diare karena bakteri, dsb.
·         Kebiasaan nyamuk: Nyamuk khususnya nyamuk aedes dan culex suka bersarang pada genangan air. Sampah dari barang- barang seperti kaleng, kantong plastic, pecahan gelas/botol menjadi tempat genagan air jika hujan turun, tempat ini sangat disenangi nyamuk aedes sebagai tempat ber kembangnya. Nyamuk merupakan vector penularan penyakit demam berdarah, kaki gajah, dan malaria.
·         Kebiasaan tikus: Tikus umumnya suka bersarang pada tempat yang banyak makanan, tempat-tempat yag lembab, dan celah-celaj yang gelap sebagai tempat persembunyiannya. Sampah basah masih banyak mengandung sisa makanan, agak lembab, dan terdapat celah-celah untuk bersembunyi edari ancama musuh tikus. Oleh karenanya tikus suka bersarang di tempat pembuangan sampah. Tikus merupakan vector penularan pes.
2.      Di samping penularan penyakit infeksi saluran pencernaan, di dalam tumpukan sampah basah kadang-kadang mengandung telur cacing. Apabila sampah basah ini diberikan untuk pakan ternak seperti babi tanpa dimasak terlebih dahulu, maka babi tersebut dapat terjangkit penyakit cacingan misalnya Trichinosis, penyababnya adalah cacing Trichinella spiralis. Jika daging babi tersebut tidak sempurna memasaknya kemudian dikonsumsi oleh manusia, maka manusia pun dapat terjangkit penyakit cacing Trichinella.
3.      Dari sampah juga juga dapat menjadi penyabab penyakit lain seperti penyakit kulit dan jamur.
4.      Kemudian selain itu, dampak dari pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat keamanan lingkungan dan kesehatan, misalnya membuang sampah secara sembarangan akan mengakibatkan pencemaran lingkungan meliputi pencemaran tanah, air, dan udara. Sampah-sampah yang dibuang sebagian besar merupakan sampah organic. Bahan-bahan organic ini mengalami pembusukan secara biologis oleh jasad-jasad renik/mikroba yang bersifat aerobic. Selain itu juga terjadi proses pembusukan sampah organic berlangsung secara anaerobic yang berlangsung lama dan akhirnya akan dapat menghasilkan humus yang sangat berguna untuk penyuburran tanah dan perbaikan kondisi tanah. Namun dampak negatifnya lebih banyak, di mana:
·         Sampah-sampah plastic, pecahan kaca, karet, dan bahan-bahan yang sukar membusuk akan mencemari tanah sehingga dalam waktu lama tidak dapat ditanami lagi (lahan kritis).
·         Hasil proses pembusukan sampah oleh jasad renik menghasilkan gas-gas seperti: CO2, H2S, CH4, dan NH3, maka udara tercemar oleh gas-gas tersebut dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Disamping itu, jika ada sampah yang terbakar maka asap-asap yang mengepul ke udara mencemari udara kaena adanya gas CO2 danCO.
·         Air rembesan hasil dari proses pembusukan saampah akan mengalami perporasi yang mengandung bahan terlarut yang dapat berbahaya untuk kesehatan, dapat mencemari air tanah, serta badab-badan air yang berada dekat dengan tempat pembuangan akhir sampah apabila tidak dilakukan pengawasan yang baik.
      5. Hasil pembusukan sampah dapt juga menggangu keseimbangan ekosistem, terjadinya              &nb sp;              penyuburan pada badan-badan air karena menerima nutrien-nutrien hasil pembusukan sampah memungkinkan terjadinya ledakan populasi tumbuhan air seperti eceng gondok dan akan mengganggu biota lain.
 
 
source : http://hizbussalam.blogspot.com

saco-indonesia.com, mPuluhan penumpang maskapai Kalstar Aviation telah terlantar di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Solo, Ja

saco-indonesia.com, mPuluhan penumpang maskapai Kalstar Aviation telah terlantar di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Solo, Jawa Tengah. Para penumpang tujuan Balikpapan dan Banjarmasin tersebut juga mengaku tak ada pemberitahuan pembatalan penerbangan dari pihak maskapai tersebut.

"Kami juga sudah datang ke bandara jam 5.30 tadi, karena harus check-in. Pesawatnya kan jam 6.30. Saya mau ke Banjarmasin, nengok cucu saya. Ternyata bandara belum bisa digunakan," ujar Anik Setyowati yang berusia (48) tahun , warga Matesih, Karanganyar, Jawa tengah.

Menurut Anik, pihak maskapai tidak memberitahu kalau ada pembatalan. Setelah sampai di bandara, pihak Kalstar baru telah memberitahu penerbangan ditunda hingga jam 12.00 Wib.

Kekecewaan juga telah dikemukakan oleh Mujiono yang berusia (47) tahun . Warga Blora, Jawa Tengah tersebut bahkan juga tak kuasa menahan emosinya. Mujiono juga mengaku, pesawatnya sudah mengalami penundaan 3 kali, yakni dari Sabtu, Senin dan Selasa.

"Saya itu jauh-jauh dari Blora ke Solo, sampai sini kok batal lagi. Mbok ya kalau batal itu di telpon, di email, atau ada pemberitahuan lain," ungkapnya kecewa.

Kekecewaan lain juga telah diungkapkan Widodo yang berusia (38) tahun dan Siti Ngatikoh, warga Salatiga. Pasangan suami istri tersebut juga hendak terbang ke Malaysia, dengan pesawat Air Asia.

"Saya dan istri mau balik ke Malaysia. Harusnya terbang hari ini jam 8.50 pagi.  Tapi tidak ada pemberitahuan dari maskapai. Ini kita sudah reschedule ," keluhnya.

Beberapa penumpang lain juga mengaku kecewa dengan sikap maskapai. Meski demikian mereka juga telah memaklumi terhadap kondisi alam yang terjadi.

Sementara itu,hingga Selasa pagi pembersihan bandara masih terus dilakukan. Menurut Asisten Operasional Bandara Adi Soemarmo, Rini Sri Rahayu mengemukakan, pembersihan bandara dari abu vulkanik sudah mencapai 70 persen.

"Hari ini kita kerahkan 800 personel lagi. Kita yakin besok pagi bandara bisa beroperasi lagi," pungkasnya.


Editor : Dian Sukmawati

Late in April, after Native American actors walked off in disgust from the set of Adam Sandler’s latest film, a western sendup that its distributor, Netflix, has defended as being equally offensive to all, a glow of pride spread through several Native American communities.

Tantoo Cardinal, a Canadian indigenous actress who played Black Shawl in “Dances With Wolves,” recalled thinking to herself, “It’s come.” Larry Sellers, who starred as Cloud Dancing in the 1990s television show “Dr. Quinn, Medicine Woman,” thought, “It’s about time.” Jesse Wente, who is Ojibwe and directs film programming at the TIFF Bell Lightbox in Toronto, found himself encouraged and surprised. There are so few film roles for indigenous actors, he said, that walking off the set of a major production showed real mettle.

But what didn’t surprise Mr. Wente was the content of the script. According to the actors who walked off the set, the film, titled “The Ridiculous Six,” included a Native American woman who passes out and is revived after white men douse her with alcohol, and another woman squatting to urinate while lighting a peace pipe. “There’s enough history at this point to have set some expectations around these sort of Hollywood depictions,” Mr. Wente said.

The walkout prompted a rhetorical “What do you expect from an Adam Sandler film?,” and a Netflix spokesman said that in the movie, blacks, Mexicans and whites were lampooned as well. But Native American actors and critics said a broader issue was at stake. While mainstream portrayals of native peoples have, Mr. Wente said, become “incrementally better” over the decades, he and others say, they remain far from accurate and reflect a lack of opportunities for Native American performers. What’s more, as Native Americans hunger for representation on screen, critics say the absence of three-dimensional portrayals has very real off-screen consequences.

“Our people are still healing from historical trauma,” said Loren Anthony, one of the actors who walked out. “Our youth are still trying to figure out who they are, where they fit in this society. Kids are killing themselves. They’re not proud of who they are.” They also don’t, he added, see themselves on prime time television or the big screen. Netflix noted while about five people walked off the “The Ridiculous Six” set, 100 or so Native American actors and extras stayed.

Advertisement

But in interviews, nearly a dozen Native American actors and film industry experts said that Mr. Sandler’s humor perpetuated decades-old negative stereotypes. Mr. Anthony said such depictions helped feed the despondency many Native Americans feel, with deadly results: Native Americans have the highest suicide rate out of all the country’s ethnicities.

The on-screen problem is twofold, Mr. Anthony and others said: There’s a paucity of roles for Native Americans — according to the Screen Actors Guild in 2008 they accounted for 0.3 percent of all on-screen parts (those figures have yet to be updated), compared to about 2 percent of the general population — and Native American actors are often perceived in a narrow way.

In his Peabody Award-winning documentary “Reel Injun,” the Cree filmmaker Neil Diamond explored Hollywood depictions of Native Americans over the years, and found they fell into a few stereotypical categories: the Noble Savage, the Drunk Indian, the Mystic, the Indian Princess, the backward tribal people futilely fighting John Wayne and manifest destiny. While the 1990 film “Dances With Wolves” won praise for depicting Native Americans as fully fleshed out human beings, not all indigenous people embraced it. It was still told, critics said, from the colonialists’ point of view. In an interview, John Trudell, a Santee Sioux writer, actor (“Thunderheart”) and the former chairman of the American Indian Movement, described the film as “a story of two white people.”

“God bless ‘Dances with Wolves,’ ” Michael Horse, who played Deputy Hawk in “Twin Peaks,” said sarcastically. “Even ‘Avatar.’ Someone’s got to come save the tribal people.”

Dan Spilo, a partner at Industry Entertainment who represents Adam Beach, one of today’s most prominent Native American actors, said while typecasting dogs many minorities, it is especially intractable when it comes to Native Americans. Casting directors, he said, rarely cast them as police officers, doctors or lawyers. “There’s the belief that the Native American character should be on reservations or riding a horse,” he said.

“We don’t see ourselves,” Mr. Horse said. “We’re still an antiquated culture to them, and to the rest of the world.”

Ms. Cardinal said she was once turned down for the role of the wife of a child-abusing cop because the filmmakers felt that casting her would somehow be “too political.”

Another sore point is the long run of white actors playing American Indians, among them Burt Lancaster, Rock Hudson, Audrey Hepburn and, more recently, Johnny Depp, whose depiction of Tonto in the 2013 film “Lone Ranger,” was viewed as racist by detractors. There are, of course, exceptions. The former A&E series “Longmire,” which, as it happens, will now be on Netflix, was roundly praised for its depiction of life on a Northern Cheyenne reservation, with Lou Diamond Phillips, who is of Cherokee descent, playing a Northern Cheyenne man.

Others also point to the success of Mr. Beach, who played a Mohawk detective in “Law & Order: Special Victims Unit” and landed a starring role in the forthcoming D C Comics picture “Suicide Squad.” Mr. Beach said he had come across insulting scripts backed by people who don’t see anything wrong with them.

“I’d rather starve than do something that is offensive to my ancestral roots,” Mr. Beach said. “But I think there will always be attempts to drawn on the weakness of native people’s struggles. The savage Indian will always be the savage Indian. The white man will always be smarter and more cunning. The cavalry will always win.”

The solution, Mr. Wente, Mr. Trudell and others said, lies in getting more stories written by and starring Native Americans. But Mr. Wente noted that while independent indigenous film has blossomed in the last two decades, mainstream depictions have yet to catch up. “You have to stop expecting for Hollywood to correct it, because there seems to be no ability or desire to correct it,” Mr. Wente said.

There have been calls to boycott Netflix but, writing for Indian Country Today Media Network, which first broke news of the walk off, the filmmaker Brian Young noted that the distributor also offered a number of films by or about Native Americans.

The furor around “The Ridiculous Six” may drive more people to see it. Then one of the questions that Mr. Trudell, echoing others, had about the film will be answered: “Who the hell laughs at this stuff?”

Mr. Fox, known for his well-honed countrified voice, wrote about things dear to South Carolina and won over Yankee critics.

Artikel lainnya »