diposkan pada : 03-03-2017 20:29:46

Menyembelih hewan qurban itu merupakan upaya memahami pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. Saat Allah memberi peringatan agar menyembelih putranya Nabi Ibrahim a.s yang bernama Ismail.

Dengan penuh ketabahan, melalui isyarat mimpi yang membenarkan perintah itu, Nabi Ibrahim pun menaatinya. Dan atas kemurahanNya, Allah kemudian mengganti Ismail dengan binatang sembelihan yang berukuran besar.

A. Kurban ketika Haji

Jamaah haji seharusnya menyembelih hewan kurban yang dibawanya (hadyu), jika ada. Yang lebih utama lagi adalah menyembelih hewan qurban tersebut dengan tangannya sendiri.

Berkurban dengan hewan unta adalah lebih utama. Kemudian seekor sapi, setelah itu seekor domba. Dan berkurban sendiri dengan seekor domba adalah lebih utama dibandingkan dengan tujuh orang bersama-sama melaksanakan kurban dengan seekor unta atau sapi.

Demikian pula, seekor domba (kambing kibas) lebih utama dari pada kambing biasa. Itulah Sabda Rasulullah SAW.

Sebaik-baiknya udh hiyah (kurban) ialah domba bertanduk.” (HR. Abu dawud dari ‘Ubadah ibn as-Shamit, dan Tirmidzi dari Abu Umamah).

Adapun domba yang putih lebih utama dari pada warna abu-abu atau hitam. Dari Abu Hurairah,

“Hewan kurban yang warna putih lebih utama dari pada dua ekor hewan kurban yang berwarna hitam.”

Dan diperbolehkan ia (yang berkurban) ikut memakan sebagian darinya, jika itu merupakan bukan yang diwajibkan baginya (hadyu sunnah). Dan janganlah berkurban dengan hewan yang cacat seperti pincang, patah tanduknya, terpotong telinganya, berpenyakit kurap, sangat kurus, lumpuh dan sebagainya.

 

B. Hikmah Penyembelihan Hewan Qurban

Dalam penyembelihan hewan qurban ini terwujud dua hikmah.

Pertama, mengajarkan kepada umat untuk mempunyai ketaatan yang sempurna kepada Allah SWT. Sebab, sejatinya perintah adalah ujian. Rasa kemanusiaan memang sisi sensitif manusia yang sangat rentan dan menguras rasa kasihan. Allah maha mengetahui hal tersebut dan Dia maha pemurah kepada hamba-hambaNya, karena itulah Ia mengganti Ismail dengan binatang sembelihan.

Dari sini, ada sisi kemanusiaan yang dibela, di samping merasa sedikit dipermainkan dengan perintah yang dalam kaca mata manusia sedikit berlebihan. Pesan intinya, cinta kepada Allah hendaknya ditempatkan di atas cinta pada apapun.

Kedua, karena menyembelih hewan merupakan tebusan yang pada dasarnya adalah bersedekah, dengan sendirinya hal itu menjadikan sebuah perwujudan dari rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan, baik berupa kesempatan melaksanakan ibadah haji maupun nikmat lainnya yang jumlahnya tak terhitung.

Sebab, tidak diragukan lagi bahwa hanya orang-orang tertentulah yang mampu melaksanakan ibadah haji. Di samping harus mempunyai kesiapan harta, fisik, mental dan keilmuan, seseorang yang melaksanakan haji juga tidak bisa lepas dari garis ketentuan. Perpaduan dua hal inilah yang seseorang sudah memiliki kesiapan dalam segala halnya, namun belum sedikitpun tergerak untuk menunaikan ibadah haji.

Adapun salah satu sebab kewajiban menyembelih binatang atas orang yang menjalankan ibadah haji tamattu’ dan qiran, adalah kondisi dua model pelaksanaan haji tersebut yang berasal dari adat jahiliyah yang telah diubah.

Pada saat menyembelih hewan qurban yang telah disediakan dalam rangka ibadah haji (hadyu), hendaknya mengetahui bahwa hal itu merupakan upaya pendekatan diri kita kepada Allah dengan mematuhi perintahNya dan menjauhi larangannya.

Karena itu, hendaknya jamaah haji menyempurnakan hadyu dan berharap agar Allah SWT membebaskan seluruh anggota tubuh dari siksa api neraka, sebagai imbalan atas setiap bagian dari hadyu yang dikurbankan.

 

 

qurban saat haji
penyembelihan hewan (selain kurban) yang dilakukan jamaah haji disebut
pemotongan hewan kurban sadis
apakah qurban termasuk rukun haji
pemotongan hewan kurban di arab saudi
menyaksikan penyembelihan unta di mekah
kurban jamaah haji
hukum qurban sebelum aqiqah

Artikel lainnya »