diposkan pada : 06-03-2017 17:46:39

Sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi oleh kita, sebuah solusi mengatasi antrian naik haji. Pada saat ini ibadah haji di negara Indonesia menjadikan salah satu ibadah yang sulit untuk dapat dilaksanakan dengan waktu yang cepat, hal ini dikarenakan adanya waiting list yang data daftarannya sangat full, sehingga masa tunggu yang panjang untuk pemberangkatan haji menjadi lebih lama.

Dari berbagai daerah rata-rata sudah mencapai 10 sampai 11 tahun, di Propinsi Daerah Istimewa yogyakarta (DIY) saja sudah 13 tahun, belum lagi di daerah yang kalalangannya kaya atau mampu, oleh karena itu sudah dapat dipastikan daftar tunggu untuk naik haji menjadi lebih lama lagi. Apakah Kementrian Agama sebagai badan pemerintah yang mengurusi penyelenggaraan ibadah haji hanya diam begitu saja ketika melihat dan mengetahui permasalahan yang ada seperti ini ?. Sudah seharusnya ada regulasi yang dapat meminimalisir banyaknya permasalahan dalam penyelenggaraan ibadah haji ini.

Sebagai badan resmi pemerintah sudah seharusnya untuk memperketat dan meneliti calon jamaah haji yang akan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, jangan hanya yang mempunyai uang saja yang bisa berangkat ibadah haji, tetapi mungkin juga ada pertimbangan yang lainnya atau mungkin Kementrian Agama juga malah merasa senang dengan kondisi yang seperti ini, kita tidak tahu, tapi yang jelas orang awam pun semua pasti akan tahu bahwa ada banyak finansial yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah haji tersebut.

Orang yang akan mendaftar ibadah haji, untuk bisa mendapatkan kursi, maka harus membayar dengan jumlah sebesar Rp. 25 juta sebagai syaratnya. Bisa kita bayangkan apabila satu orang saja yang menyetor Rp. 25 juta dan harus menunggu selama dua belas tahun, kalau uang itu didepositokan sudah berapa banyak rupiah yang akan didapat selama per tahunnya oleh pemerintah dalam hal ini Kementrian Agama jika di Indonesia terdapat ratusan ribu rupiah bahkan jutaan calon jamaah haji. Sungguh jumlah nilai finansial yang begitu besar dan fantastis.

Di samping itu, keuntungan yang diperoleh dari pelaksanaan ibadah haji per orang juga sudah berapa banyak jika pada setiap tahun Indonesia mendapat kuota sekitar 250 ribu jamaah haji. Ini merupakan sebuah ladang pemasukan yang sangat signifikan sekali untuk Kementrian Agama. Mungkin ini hanya merupakan sebuah pikiran sebagai masukan kepada Kementrian Agama agar ibadah haji yang bersifat ukhrowi dan mulia itu tidak di kotori oleh hal-hal yang kurang baik dan tidak terpuji yang hanya berkaitan dengan masalah materi duniawi saja yang berhubungan dengan masalah finansial.

Untuk sebagai masukan mungkin ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut :
1. Segera laksanakan moratorium pendaftaran ibadah haji, mungkin sudah menjadi sebuah wacana beberapa waktu yang lalu di Kementrian Agama tetapi sepertinya hal tersebut belum juga dilakukan dan masih sebatas wacana saja. Hal ini juga dijadikan sebagai sarana untuk lebih fokus dalam memikirkan pelayanan kepada jamaah agar lebih maksimal.

2. Prioritaskan untuk jamaah yang lebih tua terlebih dahulu atau lansia, mengingat kemampuan fisik para lansia yang tak lagi bugar dan mudah sakit. Selain itu,  ternyata banyak juga anak-anak yang belum cukup umur sudah didaftarkan oleh orang tua mereka yang secara finansial memang mempunyai harta yang berlebih, padahal sebenarnya mereka belum berkewajiban untuk melaksanakan ibadah haji.

3. Prioritaskan yang baru sekali naik haji, kita berharap kepada jamaah yang sudah pernah melaksanakan haji bisa berbesar hati untuk memberikan kesempatan kepada sesame saudaranya yang sama sekali belum pernah berhaji. hal ini perlu dilakukan sebab ternyata banyak yang sudah pernah naik haji sekali kemudian karena hartanya berlimpah maka dia mendaftarkan lagi. Bagi orang-orang yang modelnya seperti ini lebih baik diarahkan saja untuk melakukan umrah, lagi juga yang namanya haji itu merupakan kewajiban yang hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup. Selain itu melaksanakan haji sudah tertentu waktunya beda dengan pelaksanaan umrah yang ditentukan waktunya.

4. Seleksi calon jamaah yang akan berangkat, penyeleksian dalam hal ini mungkin berkaitan dengan keilmuan yang dimiliki seseorang dalam memahami islam secara menyeluruh, mungkin tentang bacaan al-quran, pengetahuan tentang aqidah, akhlak, hadits dan lain sebagainya, juga pengetahuan mengenai manasik haji. Bagi orang yang lulus dan ikhlas seleksi maka bisa diberangkatkan terlebih dahulu dan bagi yang telah mendaftar tapi belum lulus mungkin disuruh untuk belajar agama Islam terlebih dahulu dan lebih mendalaminya lagi lalu mengikuti kembali seleksi tahun berikutnya. Hal ini sangat penting agar calon haji yang berangkat memang benar-benar berkualitas dalam keagamaannya. Sebab pada akhir-akhir ini banyak yang sudah memiliki gelar haji tapi kualitas keagamaannya nol besar dibawah minimal. Melaksanakan ibadah Haji tidak lebih dari sekedar orang yang punya uang saja, beda dengan zaman dahulu, apabila ada orang yang sudah bergelar haji memang betul-betul mumpuni secara keagamaan dan bisa menjadi panutan bagi lingkungannya. Akan tetapi dalam hal ini harus dipersiapkan SDM yang sifatnya amanah, yang tidak mau dibeli dengan uang, sehingga yang lulus seleksi memang yang betul-betul karena kemampuan dan keilmuan bukan karena membeli kelulusan, kalau SDM nya belum siap yang ada hanya dapat menyelesaikan masalah dengan menjadi ladang korupsi baru.

5. Kalau benar-benar ingin profesional, mungkin perlu untuk diwacanakan agar pemerintah dalam hal ini Kementrian Agama bisa mewujudkan untuk membeli pesawat sendiri, tentu saja nanti akan dibentuk sebuah lembaga tersendiri khusus untuk mengurusi tetang ini, ini juga hal yang sangat penting agar lebih bisa meminimalisasi kebocoran anggaran Negara yang mengarah ke korupsi. Dalam hal pendanaan mungkin bisa diperoleh dari hasil penyimpanan uang calon jamaah dengan catatan calon jamaah diminta keihlasannya atas uangnya. Apabila bisa benar-benar dipertanggungjawabkan dan demi kemaslahatan umat, para calon jamaah tidak akan keberatan dan pesawat tersebut menjadi kekayaan negara ini. Selama inipun calon jamaah juga tidak akan pernah menanyakan kemana hasil penyimpanan uang mereka selama masa menunggu keberangkatannya, tetapi keihlasan dari calon jamaah haji sangat mutlak diperlukan agar tidak ada timbul unsur ribawi dalam hal ini sehingga terpenuhi unsur "antaraadzin minkum". Dengan langkah tersebut keuntungan yang akan diperoleh oleh negara akan semakin maksimal dan luas, selain itu pun jamaah umroh Indonesia yang luar biasa besar juga akan dapat menambah penghasilan negara dengan adanya pesawat ini di luar musim haji.

6. Pemerintah melakukan lobby kepada pemerintah Arab Saudi agar dapat menambah kuota jamaah haji bagi Indonesia, Karena seperti yang kita ketahui bahwa pemerintah Arab Saudi akan terus melakukan perluasan area Masjidil Haram demi menambah kapasitas jamaah yang dapat masuk di dalamnya. Indonesia yang mempunyai penduduk Islam terbesar di dunia harusnya juga mempunyai nilai tawar yang tinggi terhadap pemerintah Arab Saudi.

Mungkin dari enam langkah diatas tersebut bisa dipertimbangkan kembali agar carut marut dalam penyelenggaraan ibadah haji bisa diselesaikan dengan baik-baik dan aman. Dengan begitu niscaya negara Indonesia tercinta ini akan dapat menuju ke dalam sebuah negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur dengan banyaknya jumlah umat muslim yang dapat melaksanakan ibadah haji yang sangat berkualitas dan dapat menjaga kemabrurannya, bukan banyak umatnya yang naik haji tetapi jauh dari nilai-nilai spiritual yang dimiliki.

Karena pada kenyataannya sudah banyak yang memilki gelar haji tetapi masih senang mengkorupsi uang rakyat, banyak yang sudah bergelar haji tetapi tidak peduli terhadap lingkungan di sekitar dan masih banyak lagi para haji lain yang mempunyai perilaku negatif dan tidak ada perubahan sedikitpun ketika sebelum dan sesudah menunaikan ibadah haji.

Artikel lainnya »