diposkan pada : 01-04-2017 15:43:17

Sejarah Manasik Haji Zaman Rasulullah SAW, Pada tahun 10 H (632 M) Semenanjung Arabia telah dipersatukan dibawah kekuasaan Nabi Muhammad SAW yang berpusat di Madinah dan seluruh penduduknya pada saat itu telah memeluk agama Islam. Maka pada bulan Syawal Rasulullah memberi pengumuman bahwa beliau sendiri yang akan memimpin Ibadah Haji pada tahun itu. 

Berita ini disambut hangat oleh seluruh ummat dari segala penjuru dunia. Sebab mereka berkesempatan mendampingi Rasulullah dan menyaksikan langsung setiap langkah beliau dalam melakukan manasik haji.

Rasulullah SAW berangkat dari Madinah sesudah melaksanakan shalat Jum’at tanggal 25 Dzulkaidah (21 Februari) dengan mengendarai unta beliau yang bernama Al Qashwa dengan diikuti jamaah yang begitu banyak yakni 30.000 jamaah. 

Seluruh istri beliau pun ikut serta dan juga putri beliau yang saat itu masih hidup yaitu Fatimah. Sesampai di Dzulhulaifah (Birr ‘Aliy) yang berjarak belasan kilometer dari Madinah , Rasulullah dan rombongan akhirnya singgah untuk istirahat dan mempersiapkan untuk ihram.

Disini Istri Abu Bakar Ash Shiddiq melahirkan putranya yang diberi nama Muhammad. Abu Bakar berniat untuk mengembalikannya ke Madinah. Tetapi Rasulullah SAW mengatakan bahwa istri Abu Bakar cukup mandi bersuci saja, lalu memakai pembalut dengan rapi dan dapat kembali melakukan seluruh manasik Haji. Muhammad Bin Abu Bakar RA yang lahir di Dzulhulaifah itu kelak menjadi seorang Gubernur Mesir pada masa Khalifah Ali Bin Abi Thallib RA (656 – 661 M).

Keesokan harinya, Sabtu 26 Dzulkaidah (22 Februari) setelah semuanya siap untuk berihram, Rasulullah SAW menaiki unta kembali, lalu bersama seluruh jamaah mengucapkan niat haji : Labbaika Allahumma Hajjan. 

Tidak ada seorangpun yang berniat ibadah umrah sebab menurut tradisi saat itu ibadah umrah hanya dibolehkan diluar musim haji saja. Tiga cara haji yaitu Tamattu’, Ifrad dan Qiran yang kita kenal sekarang baru diterapkan Rasulullah di Mekah 8 hari berikutnya.

Lalu rombongan menuju ke Mekah dengan tiada henti selalu mengucapkan Talbiyah. Pada hari Sabtu 3 Dzulhijjah (29 Februari) Rasulullah dan rombongan pun tiba di Sarif, 15 km utara Mekah dan beristirahat. 

Aisyah RA istri Nabi kedatangan masa haidhnya sehingga dia menangis karena dia khawatir tidak bisa menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW menghiburnya, “Sesungguhnya haidh itu ketentuan Allah untuk putri-putri Adam. Segeralah mandi dan engkau dapat melakukan semua manasik haji, kecuali thawaf sampai engkau suci.”

Pada Ahad 4 Dzulhijjah (1 Maret) pagi, Rasulullah dan rombongan memasuki kota Mekah. Disana sudah banyak yang menunggu puluhan ribu ummat yang datang dari berbagai penjuru dan diperkirakan total jamaah haji yang datang waktu itu sudah mencapai lebih dari 100.000 jamaah. Rasulullah memasuki Masjidil Haram melalui gerbang Banu Syaibah yang terletak disamping telaga Zamzam di belakang Maqam Ibrahim. Gerbang Banu Syaibah ini kelak dikemudian hari populer dengan nama Baabussalam yakni Gerbang Kedamaian.

Perlu kita diketahui bahwa yang disebut Masjidil Haram pada waktu itu adalah pelataran Ka’bah dimana tempat untuk melakukan shalat dan thawaf. Sedangkan bangunan masjid baru dirintis pada masa Khalifah Umar Bin Khattab RA (634 – 644 M) dan terus mengalami perluasaan dari zaman ke zaman sehingga akhirnya megah seperti sekarang ini.

Perlu diketahui bahwa Rasulullah tidak pernah memerintahkan ummatnya harus masuk Masjidil Haram dari gerbang banu Syaibah atau Baabussalam. Rasulullah masuk melalui pintu itu karena beliau datang dari arah utara. Gerbang yang dimasuki Nabi itu kini sudah tidak ada lagi. 

Ketika pada tahun 1957 Masjidil Haram diperluas sehingga tempat Sa’i termasuk Shafa dan Marwa menjadi bagian dari Masjid. Kemudian pemerintah Arab Saudi membuat banyak pintu. Dua pintu diantaranya diberi nama Pintu Banu Syaibah dan Pintu Baabussalam.

Artikel lainnya »